
Tuan Ibrahim (diperankan Omar Sharif) dan Moses Schmidt (diperankan Pierre Boulanger) dalam salah satu scene
Menghangatnya isu kemerdekaan palestina yang digadang-gadang presiden Mahmoud Abbas melalui proposal keanggotaan penuh PBB akhir-akhir ini mau tak mau mengundang banyak pihak untuk ikut menaruh perhatian. Para pemimpin politik terkemuka, pemuka agama hingga petinggi organisasi turut serta larut dalam isu yang sensitif ini. Sekali lagi keseriusan dunia untuk menuntaskan konflik berkepanjangan Arab Israel diuji, apakah keanggotaan penuh Palestina di PBB menjadi solusi damai atau malah menjadi pemicu untuk konflik berdarah selanjutnya.
Tapi tulisan ini tidak untuk melihat konflik dari sudut pandang politik, tapi sebaliknya melalui bingkai film yang mana mencoba melihat kembali hubungan Israel dam Arab dalam sudut pandang seni, dan kemanusiaan. Bagi penulis pribadi, sudut pandang politik dan ekonomi hanya membuat masalah menjadi lebih pelik, karena yang berbicara adalah kekuasaan dan urusan perut. Tapi dalam frame film, penulis melihat cita rasa dan nilai dari hubungan manusia seutuhnya.

Ini adalah kisah tentang Mew dan Tong, semasa kecil mereka bersahabat dekat, layaknya kakak dan adik. Tong selalu berperan sebagai kakak yang melindungi Mew dari ejekan teman-temannya, mengisi hari-hari sepi Mew, hingga memberi hadiah mainan melalui sebuah teka teki. Tapi ada juga masa, ketika Mew harus berada disisi Tong tatkala keluarga Tong terguncang karena kehilangan Tang, kakak perempuan Tong. Kehilangan Tang sangat berarti bagi Mew, karena ia harus berpisah dengan Tong yang memilih pindah rumah untuk melupakan memori Tang. Kedua sahabat inipun berpisah.
Latar belakang masa kecil seseorang bisa mempengaruhi cara pandang dan gaya pergaulan seseorang. Anak kecil yang sejak dini berlatar belakang berkecukupan, mendapatkan perhatian dan pendidikan yang memadai, akan memandang dunia secara lebih positif, sedangkan anak kecil yang sedari awal hanya mengenal kekerasan dan sedikitpun tidak kebagian secuil kasih sayang, akan memandang hidup lebih negatif, dan memusatkan hidupnya untuk membalas dendam. Pesan inti itulah yang disampaikan dalam film x man terbaru, first class.
Adalah wajar jika kita sedikit menilai penampilan seseorang, dari fisik, kekayaan dan popularitas, tapi menjadikan ketiganya sebagai standar pergaulan dan menjadikan kita acuh terhadap orang yang tidak beruntung tentu adalah sikap buruk. Begitulah dengan Kyle Kingson, putra pembawa acara ternama Sean Kingson ini selalu menilai orang dari bentuk fisik dan kekayaan. Masalahnya adalah ada penyihir di sekolah yang membenci sikap turunan dari ayah Kyle ini. Saat kelakuan Kyle menggila, Kendra sang penyihir merapal mantra yang membuat Kyle, si tampan rupawan nan kaya dan terkenal menjadi si buruk rupa yang dikucilkan!
Tapi diantara deretan siswa siswi Buckston, Kendra, siswi paling aneh dengan mata hijau terang dan berpakaian serba ghotic melangkah keluar. Satu hal yang tidak diduga Kyle, Kendra

